Wednesday, March 23, 2011

Dia, Dia, Dia

It is a bit funny..
I still loved someone who crush my heart into pieces..

Sudah sangat lama aku tidak menangis seperti itu. Terus menangis hingga badan benar-benar remuk. Terus menangis sampai rasanya mata ini panas. Terus menangis sampai rasanya hati ini ingin berteriak. Air mata itu tidak bisa lagi dikontrol kapan dia mengalir. Seakan semua airmata yang kupendam selama hari-hariku bersamanya semua meluber keluar dari dalam hati. Why I still loved him?!

Terakhir kali aku menangis seperti itu sekitar dua tahun yang lalu, karena orang yang sama. Di saat aku harus memilih antara orang yang kucintai dan sahabatku. Aku sayang keduanya, jadi aku memutuskan agar membiarkan mereka bersama, meski pada akhirnya aku tidak bisa lagi berbohong pada diriku sendiri.

Saat ini, lagi-lagi aku harus memilih. Apa aku akan membiarkannya berjalan di tempat dan tetap menjadi orang yang lari dari masalah ATAU aku akan membuatnya maju dan menjadi orang yang lebih baik. Keduanya membunuhku. Menghancurkan hatiku, bukan lagi menjadi kepingan, tapi sudah menjadi serpihan.

Aku capek.
Badanku capek.
Hatiku capek.
Jiwaku capek.

Kata-katanya itu, menghancurkan hatiku, semua mimpi-mimpiku, semua kepercayaanku dihancurkannya dengan mudah. Saat itu juga aku tahu bahwa aku sudah tidak lagi mendapatkan kasih sayang darinya. Dia benar-benar menutup hatinya karena ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk dapat terus maju.

Apakah dengan mencoba mencintai orang lain, dia akan bisa membuat dirinya lebih baik? Who knows.
Kenapa dia selalu berkata seperti itu disaat ia sedang kesal? Seakan semua kekesalannya selalu ditumpahkannya padaku meski bukan aku yang menyebabkan kekesalannya.

Dia, kenapa harus dia?
Kenapa harus aku?
Itu pertanyaan yang sangat ababil dan sangat mengganggu kondisi psikologis.
Pertanyaan yang benar harusnya: KENAPA AKU MENCINTAI DIA?

Well, jawabannya mudah. Bagaikan jarum dan benang. Kunci dan gemboknya. Hati ini terus memilihnya, meskipun benci, kesal, sebal. Jiwaku terus berteriak menginginkannya, tapi apa yang sebaiknya kulakukan kalau mungkin ini memang jawaban yang terbaik. Aku berhasil membuatnya benci padaku, tapi kenapa aku harus merasa sesakit ini. Dia harus benci aku, untuk bsia maju. Aku sudah bersiap dengan rasa sakitnya, tapi ternyata tetap terasa sesakit ini. Ini demi dia, aku harus bisa melewati semua ini. Harus bisa.

He is always like that. Never change from the high school time.
Aku mau bisa ketemu dia dan memberikan senyuman yang terbaik. Tapi mungkin untuk saat ini tidak mungkin bisa. Aku harus mengumpulkan serpihan-serpihan hatiku yang dihancurkan olehnya. Melihat wajahnya pun aku tidak mau.

I want to move on.
I must move on.

New morning. New life. New sky. New smile.
Fight, myself! Gambare, atashi!

No comments:

Post a Comment